Pagi itu, 6 Mei 2015. Jauh sebelum isi kepala kami dipenuhi target pekerjaan dan cicilan, satu-satunya target kami hanyalah: sampai di tujuan sebelum matahari tenggelam. Tangki bensin terisi penuh, jaket sudah dikancingkan rapat, dan deretan motor berjejer siap membelah aspal menuju Tanggamus. Saat itu, definisi bahagia sesederhana konvoi beriringan, saling klakson kalau ada yang tertinggal, dan tertawa-tawa kecil di balik helm kaca. Angin yang menabrak wajah rasanya beda, terasa seperti angin kebebasan. Angin masa muda yang tidak takut masuk angin. Perjalanan menuju Way Lalaan bukan cuma soal memindahkan badan dari satu titik ke titik lain. Tapi tentang siapa yang ada di samping kanan dan kiri kita. Lihat wajah-wajah itu. Masih polos, tanpa filter, tanpa beban. Kami belum tahu apa yang akan terjadi 5 atau 10 tahun ke depan. Yang kami tahu, hari ini kami punya satu sama lain, dan itu sudah cukup. Kami berhenti sejenak, meluruskan kaki, sambil melempar candaan receh yang kala...
Komentar
Posting Komentar