Postingan

Dari Kolam Renang 500 Perak, Sampai Slanik Waterpark

Gambar
Slanik Waterpark (25/12/2024) Sebagai anak yang lahir di akhir 90-an, definisi liburan mewah buat gw dulu itu sederhana banget. Di tempat gw tinggal—di area perkebunan SGC—ada kolam renang yang tiket masuknya cuma 500 perak. Buat sampai ke sana effort-nya lumayan. Gw harus ngontel sepeda ngelewatin kebun tebu yang luas, jalanan tanah merah yang berdebu, sampai akhirnya membelah area perumahan karyawan. Nggak ada wahana aneh-aneh, tapi rasanya magis. Memori itu membekas sampai gw sedewasa ini. Sekarang, zamannya udah beda. Tempat liburan taman air di mana-mana hampir ada, menjamur, dan gampang aksesnya.  Sebagai ibu rumah tangga yang butuh benchmark tempat liburan proper buat keluarga di Lampung, pilihan gw tentu jatuh ke Slanik Waterpark. Ini bukan sekadar tempat nyebur, tapi udah jadi ekosistem hiburan sendiri. Tapi ya gitu, liburan di era modern bareng keluarga itu butuh strategi, apalagi soal manajemen ekspektasi dan tempat istirahat. Dulu kita bisa datang jam berapa aja dan kol...

Menjemput Tawa di Way Lalaan

Gambar
Pagi itu, 6 Mei 2015. Jauh sebelum isi kepala kami dipenuhi target pekerjaan dan cicilan, satu-satunya target kami hanyalah: sampai di tujuan sebelum matahari tenggelam. Tangki bensin terisi penuh, jaket sudah dikancingkan rapat, dan deretan motor berjejer siap membelah aspal menuju Tanggamus. Saat itu, definisi bahagia sesederhana konvoi beriringan, saling klakson kalau ada yang tertinggal, dan tertawa-tawa kecil di balik helm kaca. Angin yang menabrak wajah rasanya beda, terasa seperti angin kebebasan. Angin masa muda yang tidak takut masuk angin. Perjalanan menuju Way Lalaan bukan cuma soal memindahkan badan dari satu titik ke titik lain. Tapi  tentang siapa yang ada di samping kanan dan kiri kita. Lihat wajah-wajah itu. Masih polos, tanpa filter, tanpa beban. Kami belum tahu apa yang akan terjadi 5 atau 10 tahun ke depan. Yang kami tahu, hari ini kami punya satu sama lain, dan itu sudah cukup. Kami berhenti sejenak, meluruskan kaki, sambil melempar candaan receh yang kala...