Menjemput Tawa di Way Lalaan


Pagi itu, 6 Mei 2015.


Jauh sebelum isi kepala kami dipenuhi target pekerjaan dan cicilan, satu-satunya target kami hanyalah: sampai di tujuan sebelum matahari terlalu terik.


Tangki bensin terisi penuh, jaket sudah dikancingkan rapat, dan deretan motor berjejer siap membelah aspal menuju Tanggamus. Saat itu, definisi bahagia sesederhana konvoi beriringan, saling klakson kalau ada yang tertinggal, dan tertawa-tawa kecil di balik helm kaca.


Angin yang menabrak wajah rasanya beda. Itu angin kebebasan. Angin masa muda yang tidak takut masuk angin.




Perjalanan menuju Way Lalaan bukan cuma soal memindahkan badan dari satu titik ke titik lain. Itu adalah tentang siapa yang ada di samping kanan dan kirimu.


Lihat wajah-wajah itu. Masih polos, tanpa filter, tanpa beban. Kami belum tahu apa yang akan terjadi 5 atau 10 tahun ke depan. Yang kami tahu, hari ini kami punya satu sama lain, dan itu sudah cukup. Kami berhenti sejenak, meluruskan kaki, sambil melempar candaan receh yang kalau diingat sekarang, mungkin garing, tapi dulu rasanya lucu setengah mati.



Dan akhirnya, suara gemuruh air itu menyambut kami.

Dinginnya air Way Lalaan seketika menghapus debu perjalanan. Kami menghambur masuk, tidak peduli baju basah atau gaya rambut jadi berantakan.


Di bawah guyuran air terjun itu, waktu seolah berhenti. Tidak ada notifikasi HP yang mengganggu, tidak ada deadline yang mengejar. Hanya ada suara tawa yang pecah, memantul di antara bebatuan kali. Momen di mana kami merasa dunia sedang baik-baik saja.


Namun, siapa sangka foto-foto ini sekarang jadi mesin waktu?



Aku adalah yang terburuk ketika merindukan teman-temanku. Membuka foto lama, kemudian memposting dan menulis kata 'rindu'. Padahal kami bisa saja saling bertemu, lalu menghambur pada rindu-rindu yang telah lama ditimbun.


Kemudian memulai bahasan masa lalu yang lucu-lucu atau mengulas masa kini yang seakan makin rancu. Kemana alurnya?


Ketika sama-sama beranjak dewasa, rupanya "tidak menyia-nyiakan masa muda" adalah jawaban terbaik yang pernah kami lakukan. Karena waktu itu tidak akan pernah kembali, seberapa kuat pun kita meminta pada Yang Kuasa.


Sial, aku rindu parah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menembus Kabut Lintas Barat: Dari Kemiling ke Labuhan Jukung

Perpisahan SMPN 1 Tanjungsari